Pengertian Tasawuf

Bookmark and Share
Para pengkaji ilmu tasawuf berselisih pendapat tentang pengertian atau definisi tasawuf. Perselisihan mereka bermula dari perkataan Sufi (الصوفي) itu sendiri. Ada yang membahas dari sudut maksudnya, ada yang membahas dari sudut asal usulnya dan ada yang membahas dari sudut masa kelahiran perkataan itu sendiri.

Akan tetapi di antara perselisihan ini, yang rajih ialah perkataan “Sufi” hanyalah satu julukan atau gelaran.[1] Yang penting bukanlah perkataan tetapi intipati dan kandungan yang dibawa oleh perkataan tersebut. Pengertian “Sufi” di sisi Syeikh ‘Abd al Qadir al-Jilani rahimahullah (561H) ialah orang yang berjaya merealisasikan ciri-ciri murni serta sifat-sifat mulia sehingga dia berhak untuk disebut sebagai seorang Sufi. 

Beliau menulis:
Sufi diambil dari kata al-Mushafaat, yaitu seorang hamba yang disucikan Allah atau orang yang suci dari penyakit jiwa, bersih dari sifat-sifat tercela, menempuh mazhabnya yang terpuji dan mengikuti hakikat serta tidak tunduk kepada salah seorang makhluk.

Dalam ketika yang lain Syeikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani berkata:

Sufi ialah orang yang bersih batinnya dan zahirnya serta mengikuti Kitab Allah (al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya.

Kembali kepada pembahasan asal kita tentang pengertian tasawuf (التصوف) (al-Tashawwuf), Syeikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani mengartikannya sebagai:

Tasawuf ialah percaya kepada Yang Haq (Allah) dan berperilaku baik kepada makhluk.

Pengertian ini beliau jelaskan sebagai berikut:

Yaitu bertaqwa kepada Allah, mentaati-Nya, menerapkan syari‘at secara dzahir, menyelamatkan hati, memperkayakan hati, mengindahkan wajah, berdakwah, mencegah penganiayaan (ke atas orang lain), sabar menerima penganiayaan dan kefakiran, menjaga kehormatan guru, bersikap baik dengan saudara, menasihati orang kecil dan besar, meninggalkan permusuhan, bersikap lemah lembut, melaksanakan keutamaan, menghindari dari menyimpan (harta benda), menghindari persahabatan dengan orang yang tidak setingkat (dalam keimanan) dan (akhirnya) tolong menolong dalam urusan agama dan dunia.

Dari nukilan-nukilan di atas, jelas bahwa pengertian Tasawuf di sisi Syeikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani ialah ciri-ciri murni dan sifat-sifat mulia yang patut diterapkan oleh orang Islam ke atas dirinya. Penerapan ini dilakukan dengan bermujahadah, yakni pertarungan ruhani untuk mengawal dan menumpaskan nafsu yang tercela. Apabila seseorang itu berjaya menerapkan dan merealisasikan ciri-ciri murni dan sifat-sifat mulia tersebut, barulah dia digelari sebagai seorang Ahli Sufi.

Pengertian Tasawuf dan Sufi yang diberikan oleh Syeikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani di atas mungkin berbeda dengan tokoh-tokoh tasawuf yang lain. Namun jika dicermati perbedaan-perbedaan ini, akan didapati bahwa kesemuanya tetap mengarah kepada maksud yang satu. Hal ini sebagaimana yang dirumuskan oleh ‘Abd al-Fatah Ahmad al-Fawi:

Secara ringkasnya Risalah al-Qusyairiyyah, Hilyah al-Auliya’, Tazkirah al-Auliya’ dan lain-lain buku yang membahas tentang tasawuf dipenuhi dengan ratusan lafadz dan cerita tentang ahli sufi dan ahli tasawuf. Kesemuanya memiliki perbedaan ta’bir dan sumber pengambilan. Namun begitu kesemuanya tetap menuju kepada satu tujuan saja, yaitu menghindarkan diri dari kelezatan dunia, membersihkan jiwa dan berusaha mencapai cinta Illahi dalam ruang lingkup ketinggian rohani dan mujahadah nafsu.



{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar