Kata Guruku Soal Partai Keadilan Sejahtera

Bookmark and Share
Siang itu, Hanif memanggilku. Seharusnya kami mulai membahas aksi kami soal Palestine (awalnya kesiswaan setuju, tp mendadak berubah pikiran), tapi Hanif membawa berita lain. Istirahat kedua ketika dia harus menemui guru di kantor, dia melewati meja guru agama yang sekaligus pembina Rohis kami. Beliau sedang berbicara dengan Diwan (Pak Ketua Rohis) dan Delan. Mungkin awalnya Hanif cuma lewat, tapi ada satu kalimat dari sang guru agama yang membuatnya lebih menajamkan pendengaran, "... kalian itu harus hati-hati sama PKS..."

Terang saja Hanif kaget. Seorang guru agama membicarakan soal PKS dengan ketua Rohis dalam konteks seperti itu? Kan nggak ada hubungannya sama kegiatan Rohis.

Kalimat selanjutnya dari guru Agama tidak diceritakan detail oleh Hanif padaku, tapi "peringatan" itu mencakup kasus Pak Tifatul Sembiring yang (katanya) curi start kampanye. Oya, satu lagi "wejangan" beliau, "PKS emang sekarang kelihatannya (?) paling halus, tapi dalamnya belum tentu. Seperti HP, cassing-nya bisa bagus, tapi dalamnya juga belum tentu bagus."

Hah? Beliau mengibaratkan PKS dengan HP?

Setibanya Hanif di kelas, dia langsung cerita sama Annida. Annida, katanya, langsung marah-marah. Aku setuju banget, sama Annida yang marah-marah. Aku pun pengin begitu. Tapi Hanif mengingatkanku akan hal lain, bahwa, Diwan dan Delan masih terlalu "polos" untuk diajak bicara oleh guru agama soal ini. Hanif khawatir sekali kalau sampai mereka berdua "terpengaruh" sama beliau. Hanif bilang, "Kita harus membentengi mereka berdua, Lilo..."

"Ya aku tahu," jawabku. "Tapi kayaknya mending kita serahkan aja persoalan ini ke murobbi mereka berdua."

Hari sebelumnya, aku dan Hanif berbincang-bincang dengan wakasek kesiswaan. Sebetulnya, minggu sebelumnya beliau justru menyarankan kami mengadakan aksi solidaritas Palestina di depan rumah dinas Bupati. Tentu saja kami antusias menyambut saran itu, bahkan Mbak Nana (alumni) pun sempat nggak percaya saran itu keluar dari beliau. Tapi, dalam perbincangan itu, beliau justru mengibaratkan Hamas sebagai orang yang mengganggu ketenangan tetangganya (Israel) dengan melempari batu, sehingga tetangga itu marah.

Aku dan Hanif menahan diri untuk tidak saling pandang terlalu sering. Apalagi, beliau juga bilang, setelah berbincang dengan guru agama, kita nggak perlu mengadakan aksi turun ke jalan untuk Palestina. Katanya, "Negara-negara Arab diam aja, kenapa kita yang jauh-jauh di Indonesia ngotot mau membela Palestina?"

Walhasil, aksi pun batal. Padahal Rohis sudah sepakat dengan PMR untuk mengadakan aksi tersebut. Tapi alhamdulillah, kami masih diizinkan menggalang dana untuk dikirim ke sana. Lagi-lagi, guru Agama tersebut yang menjadi "penghalang" kami.

Tapi pelajar macam kami bisa apa? Apalagi seperti kata Hanif, "PKS, Palestine, kita masih biasalah sama guru. Yang penting, pandangan negatif beliau jangan ke Iqro' Club aja. Kalau beliau ikutan sebel sama Iqro' Club, gimana nasib kegiatan kita?"


{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar