Koleksi Majalah Intisari dari No.1 Perdana th.1963 s/d th.2000

Bookmark and Share

Intisari Edisi Perdana No.1 - Agustus 1963
 
Intisari Edisi Perdana No.2 - September 1963

Intisari Edisi Perdana No.3 - Oktober 1963

Intisari Edisi Perdana No.4 - November 1963

Intisari Edisi Perdana No.5 - Desember 1963

Intisari Edisi Perdana No.6 - Januari 1964

Intisari Edisi Perdana No.7 - Februari 1964

Intisari Edisi Perdana No.8 - Maret 1964

 
Intisari Edisi Perdana No.9 - April 1964
 
 
Intisari Edisi Perdana No.10 - Mei 1964

--> Menoleh ke belakang, hampir 47 tahun silam, dimasa itulah majalah Intisari ikut terbawa oleh putaran waktu.
Ketika itu seorang mahasiswa doktoral di Fakultas Sospol Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, diminta menjadi pemimpin redaksi majalah baru pengganti mingguan Star Weekly yang baru saja dibredel. Yang meminta PK Ojong, pemimpin redaksi mingguan itu, dan yang diminta Jakob Oetama.

Runding punya runding, disepakatilah majalah itu akan terbit bulanan, bersifat informasi yang menghadirkan pengetahuan populer. Soalnya, ada niat menjawab kehausan masyarakat Indonesia akan bahan bacaan akibat politik isolasi informasi internasional.

Intisari nomor satu lahir tak berbaju pada 17 Agustus 1963.
 

Artinya, sampulnya cuma halaman daftar isi.
Kertasnya pun kertas koran. Mengapa terbit pas Hari Proklamasi?

Ternyata alasannya cukup muluk, turut berusaha membentuk dan memperkaya manusia Pantjasila Indonesia. Oleh karena itu, pengasuhnya dalam kata pengantar bertekad akan mengusahakan agar isi majalah ini enak dibaca.

Pada nomor perdana itu, Drs. Nugroho Notosusanto mengobrol tentang kota London. Edisi setebal 128 halaman itu diramaikan juga oleh Soe Hok Djin (kemudian menjadi Arief Budiman) yang berkisah tentang pengalamannya di Ubud, Bali. Tan Liang Tie dengan gayanya yang renyah berkisah tentang pelari maraton, Emile Zatopek.

Baru edisi nomor 5, Desember 1963, akhirnya majalah ini mulai berbaju.
Tetapi menjelang usia kedua, PK Ojong dan Jakob Oetama repot membidani adik Intisari 
yang kelak jauh melebihi kakaknya, yaitu harian KOMPAS.
Pengelolaan Intisari pun pindah ke tangan Irawati.
Sudah sejak awal kisah tentang tokoh-tokoh dunia terjalin dengan kisah-kisah dari ranah sejarah (Perang Dunia II) atau arkeologi. 


Penulis, seperti Asrul Sani, Pak Kasur, Mohammad Roem, Prof. Dr. Slamet Iman Santoso, Soe Hok Gie, Haryati Soebadio, dan Driyarkara SJ, 
hanya beberapa contoh nama yang telah atau bakal menjadi tokoh pada masa mendatang yang turut memeriahkan isi Intisari. Jangan pula dilupakan peran penulis tetap, seperti Tan Fay Tjhion (human interest), Tjiptono Darmaji (kedokteran), Siswadhie (kepurbakalaan), Slamet Soeseno (flora-fauna), dan Prof. HOK Tanzil (perjalanan). 

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. e-mail: neneng1971@yahoo.com
atau  0813.1540.5281
Sudah Terjual

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar